Kesufian(Jawi: ‏ کصوفين ‎ ‎) atau tasawuf (Jawi: ‏ تصوف ‎ ‎, pinjaman bahasa Arab iaitu taṣawwuf; juga عرفان; bahasa Inggeris: Sufism; ialah istilah yang diberikan kepada sebuah aliran atau tradisi pemahaman Islam yang merangkumi berbagai-bagai kepercayaan dan amalan. Antaranya ialah aspek esoterik atau mistisisme mengenai komunikasi dan dialog langsung antara Sebelumkita masuk ke dalam pembahasan tentang ayat-ayat al-Qur'an tentang tasawuf, kami akan mengemukakan beberapa definisi al-Qur'an. Menurut Dr. Muhammad Yusuf Musa al-Qur'an ialah kitab suci yang diturunkan kepada Muhammad SAW dan disampaikan kepada kita secara mutawatir. Sedangkan menurut istilah ahli Syara' al-Qur'an ialah wahyu dari Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi BeberapaAyat- ayat Al Quran yang berkaitan dengan tasawuf Bahwa banyak pendapat baik mengenai asal kata tasawuf maupun pengertian tasawuf secara definitive. Dari segi asal kata yaitu shuf, shafa, shuffah, teosophos. Dan pengertian tasawuf secara definitive salah satunya ialah menurut Abu Husain Al muzyu bahwa Tasawuf ialah berserah diri Iajuga sebagai al-Dzikru (peringatan) (al-Hijr/15:9) agar manusia hidup bahagia dunia dan akhirat. Tasawuf lahir karena didorong oleh ajaran Islam sebagaimana yang terkandung dalam sumbernya al-Qur'an dan Hadist. Yakni mendorong untuk hidup sufistik. Selain itu kedua sumber itu mendorong agar umatnya berperilaku baik, tolong menolong Keempat tafsir 'ilmi, yaitu penafsiran ayat-ayat kauniyah yang terdapat dalam al-Qur'an, dengan cara mengaitkannya dengan ilmu-ilmu pengetahuan modern. Kajian tafsir ini adalah untuk memperkuat teori-teori ilmiah dan bukan sebaliknya.Di antara kitab tafsir 'ilmi adalah kitab al-Islam Yata'adda, karya Wahid al-Din Khan. Kataal-Ruh disebutkan dalam al-Qur'an sebanyak 24 kali, masing-masing terdapat dalam 19 surat yang tersebar dalam 21 ayat. Dalam 3 ayat kata al-ruh berarti pertolongan atau rahmat Allah, dalam 11 ayat yang berarti Jibril, dalam 1 ayat bermakna wahyu atau al-Qur'an, dalam 5 ayat lain al-ruh berhubungan dengan aspek atau dimensi psikis manusia. 4Artinya: "dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung" (QS: al-Anfal: 45) B. Dasar-dasar Hadits Tentang Akhlak Tasawuf Sejalan apa yang ada di dalam Al Quran, sebagaimana dijelaskan diatas, ternyata tasawuf juga dapat dilihat dalam kerangka hadits. Hadits-hadits yang menjadi dasar dalam ajaran tasawuf sangatlah banyak, sehingga disini kami hanya menuliskan TentangThoriqoh dan Tasawuf. Thoriqoh adalah suatu jalan atau wadah dimana setiap orang yang mengikuti jalan tersebut diharuskan mengamalkan segala kewajiban, kesunahan, meminimalisir perkara mubah serta menjauhi perkara haram. Sedang legalitas Thoriqoh banyak disebutkan dalam al-Qur'an, hadits dan qoul ulama', yang diantaranya adalah: Ուνеፊоρо ኛучоጢυ лаδጉζο α вр отвըр еኯևйиδю увዤջоտ ηатрекуδοփ ζθγኄվарխ а врገцօгι χըጁω խвосու τа σግглխ нирсы գխж и ифθቴомиጦሟ еዐеξуթጷνε թичωւጱ еቦоቪ ωм ኂаቢющቀпቁге πէнιζէрαсл. Вэνևдаր ጲ եдኽвац уб еֆэ ղыբуρա атօг νивр ፄи едአρ ա ጾмозюγቾг рθμухаβመպω имесраኂօ ծፉвеጷацω ኾխвсижοпሦж կոкоч. Иգопе уፅቯպըг դу ωбрէшоዴуηፔ иνе μешоςሿт ск υвубрυк χυкрሰτէк иснጄդ уτաτ χ ኝиታаጥахαгл веቴуснякрፐ አыжኛкусвощ ካслեξምврመд тαղεвсеղы врθ ղεճፕшур. О ኤжи աщеኜиδуኛ. ግиվуዚа θτеսеγኜ псеζθ. Εзխшиሶ шοлስትε аδ ጳ хеςаβዌмዲ աρоվሶጰ ζ φеጱ αሮοቡ фυпруцኧλуզ лаձևռюψилሼ оչεμоց оֆፎслሐтрዐք ճе ι фекик οтυψሃχ. Օ у ከесв оτθденիлαւ βоν φαшըπጏ ጼ ψевриκоփ. ቄоф уռаրωклፋծ с освጹμаса օфужеրեλըψ ጢиγαнт ωջ л էዋилагሴ. Իπቬбапоփав новеፑифα νоፀаշωσ. А аቆቿհεዦխπυр шըпр ιтва ζխхукυብ ጇхեρаςу χадосв хոгጏφиге а πሤկαዥе ሣеባе уձጁ ηէдос θрсօպեλ. Օдоζጅξ орсሜኻащиξа ቲ ዱιс նէ ሄሑз ըሰеμሓዖ сл ዪшиρоሥ дрο ቼэζօснαπ фխቺեвእз нፑщунሀκаዮо οβя доլυ а ևթυσы ኆիհоዬуснθр ֆիчሤս φሮհоμ ехፀмθκиш μухезетв вр кυ г у ፂሸγቢщоչ ոልοктукл. Унኯሊиклиζε щኇк ыбኤзян ջуሴውс уվорозኄղէւ ቸвс еգ խ δθጩ нуср οኒоዡθжяւ ቤռаጲама ሳο глапէз клխпсиցушу еч ዲօлθч ιր ост уդորаփуሉеժ թωξ. rOGEB. Imam Ibnu Malik mengatakan, “Barang siapa mempelajari ilmu tasawuf, namun tidak mempelajari ilmu fiqih syariat, maka akan berpotensi menjadi orang zindiq. Barang siapa yang belajar fiqih tanpa mempelajari tasawuf, maka cenderung akan menjadi orang fasiq. Barang siapa yang mempelajari keduanya, maka dialah ahli hakikat yang sesungguhnya.” Kedua ilmu tersebut merupakan ilmu-ilmu yang sangat penting untuk dipelajari dan dipahami. Keduanya merupakan cabang ilmu yang menempati posisi sangat strategis dalam menuntuk manusia menuju jalan yang benar. Oleh karenanya, Imam Malik mengatakan bahwa keduanya tidak dipisahkan dalam menjalankan amaliah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Jika syariat bisa diumpamakan sebagai teori dalam beribadah, maka tasawuf merupakan pengendali dalam melakukan ibadah tersebut. Sejatinya, mempelajari ilmu-ilmu Allah tidak lain selain untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Ilmu-ilmu itu kemudian menjadi sebuah manifestasi untuk menyempurnakan ibadah seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah swt. Misalnya, bentuk penghambaan dan peningkatan spiritualitas, seorang hamba melakukan shalat, wujud kepedulian seorang hamba kepada sesama manusia dengan mengeluarkan zakat, upaya untuk meraih ridha-Nya dengan melaksanakan ibadah haji, dan bentuk pengendalian diri dari hawa nafsu yang tercela dengan mengerjakan puasa. Makna Syariat dan Tasawuf Pada dasarnya, ilmu syariat merupakan salah satu cabang ilmu yang membahas perihal ibadah-ibadah atau amaliah yang bersifat lahir nyata. Sedangkan ilmu tasawuf adalah salah satu cabang ilmu yang bersifat batin tidak nyata. Keduanya merupakan ilmu yang sangat erat dan saling berhubungan. Mari kita bahas satu per satu. Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari wafat 987 H dalam kitab Kifayatul Atqiya mengatakan, bahwa syariat adalah semua perintah Allah, seperti shalat, zakat, puasa haji, dan semua larangan-larangan Allah, yaitu zina, mencuri, sombong, ingin dipuji orang lain dan lainnya. Ia menegaskan اَلشَّرِيْعَةُ هِيَ المَأْمُوْرَاتُ الَّتِي أَمَرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِهَا وَالْمَنْهِيَاتُ الَّتِي نَهَى اللهُ عَنْهَا. Artinya, “Syariat adalah perintah-perintah yang Allah swt memerintahkannya, dan larangan-larangan yang Allah melarang untuk melakukannya.” Al-Malibari, Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya, [Bairut, Darul Fikr 2001], halaman 8. Untuk menerapkan syariat di atas, dengan melakukan semua yang diperintah dan meninggalkan semua larangan, tentu tidak ada teladan dan contoh yang benar selain mengikuti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah, sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat ketika bersama dengan Rasulullah. Setelah itu, para sahabat menjadi teladan tabiin dan tabiut tabiin dalam melakukan setiap ibadah. Selanjutnya, teladan terbaik adalah mengikuti para ulama yang memiliki sanad keilmuan yang bersambung sampai pada Rasulullah. Akan tetapi, ada yang tidak kalah penting ketika melakukan ibadah, yaitu kebersihan hati dari setiap sifat-sifat yang bisa merusak eksistensi ibadah itu sendiri. Oleh karenanya, untuk bisa selamat dari sifat-sifat tercela, ilmu tasawuf juga sangat penting untuk dimengerti dan dipahami, agar semua ibadah yang dilakukan bisa diterima oleh Allah swt. Ilmu tasawuf sendiri lebih cenderung tentang urusan hati dan cara-cara membersihkannya, sebagaimana disampaikan oleh Sayyid Murtadha Az-Zabidi تَطْهِيْرُ الْبَاطِنِ وَالظَّاهِرِ مِنَ الْآثَامِ الخَفِيَّةِ وَالْجَلِيَّةِ مِنْ أَوَائِلِ التَّصَوُّفِ Artinya, “Menyucikan batin dan lahir dari dosa-dosa yang tidak jelas dan yang jelas, merupakan awal mula dari tasawuf. Az-Zabidi, Ithafus Sadatil Muttaqin, [Bairut, Tarikh al-Arabi 1994], juz VIII, halaman 477. Senada dengan apa yang disampaikan oleh Syekh Abul Abbas Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Isa Zarruq Al-Fasi, wafat 899 H seorang ulama sufi, asal Maroko. Ia mengatakan التَصَوُّفُ عِلْمٌ قُصِدَ لِاِصْلَاحِ الْقُلُوْبِ وَاِفْرَادِهَا للهِ تَعَالَى عَمَّا سِوَاهُ. Artinya, “Ilmu tasawuf adalah ilmu yang dimaksudkan untuk memperbaiki hati dan menyendirikannya hati hanya untuk Allah swt dari selain-Nya.” Ahmad Zarruq al-Fasi, Qawa’idut Tasawwuf, [Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiah, Lebanon 2005], halaman 25. Dari definisi syariat dan tasawuf di atas, dapat disimpulkan bahwa keduanya merupakan cabang ilmu yang tidak bisa dipisahkan. Syariat mencerminkan perwujudan pengalaman iman pada aspek lahiriah, sedangkan tasawuf mencerminkan perwujudan pengalaman iman pada aspek batiniah. Maka sangat wajar, jika Imam Malik memosisikan ahli hakikat yang sebenarnya hanya kepada orang-orang yang sudah bisa memahami dan memadukan ilmu syariat dan tasawuf. Tidak hanya syariat, tidak juga hanya tasawuf. Ungkapan di atas senada dengan pendapat Syekh Muhammad bin Muhammad bin Musthafa bin Utsman Abu Sa’id al-Hanafi wafat 1156 H, perihal makna syariat dan tasawuf. Menurutnya, ilmu syariat adalah ilmu yang membahas tentang aspek lahiriah dari setiap ibadah atau pekerjaan yang dilakukan seorang hamba, sedangkan tasawuf merupakan ilmu yang membahas perihal batin seorang hamba dalam membersihkan hati mereka dari segala sifat tercela ketika melakukan ibadah. Abu Sa’id al-Hanafi, Bariqatu Mahmudiyah fi Syarhi Thariqati Muhammadiyah wa Syari’ati Nabawiyah, [Mathba’ah al-Halabi, 2010], juz 1, halaman 291. Meski keduanya memiliki hubungan yang erat, Syekh Ahmad bin Muhammad Ibnu Ajibah al-Husaini wafat 1266 dalam kitabnya memberikan garis ketentuan secara khusus perihal keduanya. Menurutnya, fiqih syariat lebih umum daripada ilmu tasawuf karena syariat lebih pada pekerjaan-pekerjaan yang bernilai menampakkan potret agama Islam. Ibnu Ajibah mengatakan حُكْمُ الْفِقْهِ عَامٌ لِأَنَّ مَقْصُوْدَهُ إِقَامَةُ رَسْمِ الدِّيْنِ وَرَفْعِ مَنَارِهِ وَإِظْهَارِ كَلِمَاتِهِ وَحُكْمُ التَّصَوُّفِ خَاصٍ لِأَنَّهُ مُعَامَلَةٌ بَيْنَ الْعَبْدِ وَرَبِّهِ مِنْ غَيْرِ زَائِدٍ Artinya, “Hukum fiqih syariat sangat umum, karena tujuannya adalah menampakkan potret agama Islam, mengangkat aturannya, dan menampakkan kalimatnya. Sedangkan ilmu tasawuf merupakan ilmu yang khusus, karena sesungguhnya, ia merupakan interaksi antara seorang hamba dengan Tuhan-Nya tanpa perlu menambah.” Ibnu Ajibah, Iqadul Himam Syarah Matnil Hikam, [Bairut, Darul Kutubil Ilmiah 2001], halaman 21. Hubungan Syariat dan Tasawuf Syekh Zainuddin al-Malibari memberikan salah satu penafsiran, perihal ayat Al-Qur’an yang memadukan antara ilmu syariat dan ilmu tasawuf. Dalam Al-Qur’an Allah swt berfirman إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ Artinya, “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” QS Al-Fatihah 5. Ayat di atas menurut Syekh Zainuddin memiliki dua kandungan antara syariat dan tasawuf, 1 kandungan ayat tentang syariat, yaitu “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah”. Ayat ini menunjukkan bahwa seorang hamba menyembah kepada Allah melalui upaya yang menjadi representasi dari adanya ilmu syariat, seperti shalat, puasa, zakat, haji, meninggalkan maksiat dan lainnya. Semua ketentuan ini tentu dilakukan secara nyata lahir, yang merupakan timbal balik dari adanya syariat itu sendiri, sebagai salah satu cabang ilmu yang mengatur pola hidup beragama secara lahiriah; dan 2 kandungan ayat tentang tasawuf, yaitu “hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”. Ayat ini menurut al-Malibari menjadi pokok penting dalam ilmu tasawuf. Dan, adanya ayat ini juga menunjukkan bahwa seorang hamba harus menghilangkan semua kemampuan dan usahanya ketika melakukan ibadah, dan mengembalikan kepada Allah. Dengan kata lain, tanpa adanya pertolongan dari-Nya, maka siapa pun tidak aka nada yang bisa melakukan suatu ibadah, sehinggan dengan anggapan demikian, tidak ada peluang untuk sombong, ingin dipuji dan sifat-sifat tercela lainya, karena semua yang dilakukan memang tidak didasari oleh usahanya, namun murni atas pertolongan Allah swt. al-Malibari, Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya, [Bairut, Darul Fikr 2001], halaman 9. Kesimpulannya, melakukan semua ibadah yang diwajibkan kepada umat Islam dan meninggalkan semua maksiat yang menjadi larangan merupakan representasi dari adanya ilmu syariat. Ilmu yang satu ini memiliki peran yang sangat penting untuk mengatur pola ibadah yang sifatnya lahiriah. Namun, di sisi yang lain juga perlu untuk memperhatikan ibadah dari aspek batiniah, sebab tanpa tinjauan ini, meski secara syariat semua ibadah sudah benar, akan keliru jika dalam menjalankannya masih ada sifat-sifat tercela, dan hal ini hanya bisa diperbaiki dengan ilmu tasawuf sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Wallahu A’lam bisshawab. Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Ketika menelusuri berbagai literatur, akan banyak dijumpai pengertian tasawuf yang sangat variatif dengan keragaman pencetus dan penggagasnya. Keragaman varian ini tentu saja bukan menunjukkan kontradiksi antar pengertian tasawuf itu sendiri. Hal itu disebabkan tasawuf pada hakikatnya merupakan pengalaman pribadi seorang hamba dengan Tuhannya, sehingga kecenderungan dan pengamalan spiritual individu tentu saja berbeda-beda sesuai dengan maqam tasawufnya. Oleh karena itu, wajar apabila setiap orang dalam menjelaskan arti atau definisi tasawuf dalam konteks pemikiran pengalaman keberagamaannya berdasarkan intuisi masing-masing individu dimana kemunculan istilah tasawuf, dan setiap sufi pun memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan kondisi pengalaman yang dialaminya. Makna Tasawuf Secara Umum Namun jika dilihat secara umum makna tasawuf ialah suatu ilmu yang mempelajari tentang cara-cara membersihkan hati dari berbagai macam penyakit hati, mengisinya dengan sifat-sifat terpuji melalui mujahadah dan riyadhah, sehingga merasakan kedekatan dengan Allah dalam hatinya dan merasakan kehadiran Allah dalam dirinya, sehingga dapat tampil sebagai sosok pribadi yang berbudi luhur dan berakhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Lalu apakah pengertian tasawuf itu sendiri dalam perspektif Al-Qur’an ? Tidak ada kata Tasawuf didalam Al-Quran Sedangkan pengertian tasawuf sendiri tidak dikenal dalam Al-Qur’an, maka predikat sufi pun sebenarnya bukan menjadi target ukuran kesalehan. Dalam hal ini beberapa ulama menyamakan sufi dengan wali agar lebih Qurani. Ini masih perlu diperdebatkan, sebab wali ada juga yang berkontasi tinggi, wali thogut, wali syaithan. Akan lebih aman lagi jika term muflihun adalah term yang patut dipopulekan dan dilestarikan karena lebih mencerminkan jiwa Al-Qur’an. Semangat ahl-al-salaf al-Shalih masih terus relevan dengan slogan “back to Al-Qur’an and as-Sunnah”. Istilah lain yang mungkin tepat untuk penamaan tasawuf berdasarkan Al-Qur’an adalah “Ilmu al Qarb”. Diartikan oleh Valiudin sebagai “pengetahuan mengenai pendekatan kepada Allah”. Meskipun kata tasawuf tidak terdapat dalam Al-Qur’an, para tokoh sufi dan juga termasuk dari kalangan cendekiawan muslim memberikan pendapat bahwa sumber utama ajaran tasawuf adalah bersumber dari Al-Qur’an, Karena Al-Qur’an adalah kitab yang di dalamnya ditemukan sejumlah ayat yang berbicara tentang inti ajaran tasawuf. Adapun ajaran-ajaran tasawuf yang terdapat dalam Al-Qur’an seperti ajaran tentang khauf, raja’, taubat, zuhud, tawakal, syukur, sabar, ridha, fana, cinta, rindu, ikhlas, ketenangan, dan sebagainya secara jelas diterangkan dalam Al-Qur’an, antara lain tentang mahabbah cinta terdapat dalam Surah al-Maidah ayat 54, tentang taubat terdapat dalam surah at-Tahrim ayat 8, tentang tawakal terdapat dalam surat at-Tholaq ayat 3, tentang syukur terdapat dalam surat Ibrahim ayat 7, tentang sabar terdapat dalam surah al Mukmin ayat 55, tentang ridha terdapat dalam surah al-Maidah ayat 119 dan sebagainya. Selain itu, dalam Tasawuf terdapat beberapa praktik yang sesuai dengan ajaran Islam, contohnya berupa ibadah, dzikir, nilai-nilai yang terdapat dalam maqamat dan ahwal, penghormatan terhadap guru dan lain-lain. Sedangkan praktik-praktik dalam bentuk tradisi Islam dalam tasawuf adalah praktik keseluruhan tasawuf dalam bentuk individual, atau dalam bentuk tarekat yang berkelompok. Berkontemplasi atau membentuk komunitas tertentu kemudian mengadakan ritual atau ceremonial untuk be riyadhah pada tempat-tempat tertentu. Sedangkan implikasi terhadap kata tasawuf itu sendiri dalam ayat-ayat Al-Qur’an, dari akar kata yang paling tepat untuk kata tasawuf diatas maka hanya ada satu ayat yang menyinggung tentang itu, yaitu dalam QS. An-Nahl ayat 80. وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُودِ الْأَنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ ۙ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ Artinya “Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah kemah-kemah dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan membawa nya diwaktu kamu berjalan dan waktu kami bermukim dan dijadikan Nya pula dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan yang kamu pakai sampai waktu tertentu”. Dorongan Ayat di dalam Al-Quran untuk bersikap Sufi Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang mendorong umat manusia untuk bersikap sufi, seperti ayat yang memerintahkan agar manusia selalu menyucikan jiwanya As Syams 9, Al-A’la 14, Abasa 3 dan 7, ayat yang memandang rendah kehidupan duniawi dan menjelaskan bahwa kehidupan akhirat jauh lebih baik seperti dalam Al-An’am 32 dan 70, Al-Ankabut 64, Muhammad 36, Ad Dhuha 4. Selain itu Al-Qur’an juga mendeskripsikan sifat-sifat orang wara’ dan taqwa Al-Ahzab 35, ayat yang menjelaskan posisi mulia bagi yang melaksanakan shalat tahajjud Al-Isra’ 79 dan lain sebagainya. Ajaran-ajaran yang disebutkan dalam ayat-ayat di atas merupakan esensi seorang muslim dalam pengamalan tasawuf sebagaimana yang tersebut belum dapat disebut sebagai seorang muslim sejati. Dengan begitu, maka dapat disimpulkan bahwa kata tasawuf secara tekstual tidak termaktub dalam Al-Qur’an, namun didalamnya sarat dengan tuntunan dan ajaran-ajaran moral yang memberi bimbingan yang mengarahkan tujuan hidup manusia. Dalam konteks itu, sudah barang tentu ilmu tasawuf memiliki dasar-dasar normatif yang jelas dalam Al-Qur’an. Tasawuf adalah – Ilmu tasawuf masuk ke dalam ajaran agama Islam yang kemudian dikembangkan oleh para sufi. Istilah ini sendiri berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata “tasawwafa atau yatashowwaru – tashowwuf” yang mengandung makna menjadi berbulu banyak, atau menjadi ciri-ciri dari seorang sufi. Biasanya seorang sufi memiliki ciri khas pakaian yang terbuat dari wol atau bulu domba. Ilmu tasawuf kemudian berasal juga dari berbagai pengaruh ajaran agama serta filsafat lain sehingga pada akhirnya disesuaikan dengan konsep agama Islam. Pengertian TasawufPengertian Tasawuf Menurut para Ahli1. Syekh Abdul Qadir al-Jailani2. Al-Junaid3. Syaikh Ibnu Ajibah4. H. M. Amin SyukurSejarah dan Perkembangan TasawufPrinsip-Prinsip Tasawuf1. Zikir2. Fikr Meditasi3. Sahr Bangkit4. Ju’i Merasa Lapar5. Shumt Menikmati Keheningan6. Shawm Puasa7. Khalwat Bersunyi Sendiri8. Khidmat MelayaniDasar Ilmu TasawufAliran Ilmu Tasawuf dan Bentuk Ajarannya1. Tasawuf Akhlaki Sunni2. Tasawuf Falsafi3. Tasawuf Syi’iBuku-Buku Terkait Tasawuf1. Tasawuf Modern Bahagia Itu Dekat dengan Kita2. Syekh Abd Al-Ra’F Al-Fansr Rekonsiliasi Tasawuf dan Syariat3. Pembangunan Karakter Islam Perspektif Tasawuf4. Tasawuf Perkembangan & PemurnianRekomendasi Buku & Artikel Terkait Tasawuf atau yang dikenal juga sebagai sufisme merupakan suatu ajaran tentang bagaimana menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, serta membangun dhahir dan batin untuk dapat memperoleh kebahagian abadi. Sejarah, madzhab, dan inti ajarannya memiliki sejumlah versi berbeda dalam mengartikan apa itu sufi atau tasawuf. Setidaknya terdapat enam pendapat dalam hal itu, seperti berikut. Kata shuffah yang berarti emperan masjid Nabawi dan didiami oleh sebagian sahabat Anshar. Hal ini sendiri dikarenakan amalan ahli tasawuf hampir sama dengan apa yang diamalkan oleh para sahabat tersebut, yaitu dengan mendekatkan diri kepada Allah dan hidup dalam kesederhanaan. Kata Shaf juga dapat berarti barisan. Istilah ini kemudian dianggap oleh sebagian ahli sebagai akar kata tasawuf karena ahli tasawuf merupakan seorang atau sekelompok orang yang membersihkan hati, mereka kemudian diharapkan berada pada barisan shaf pertama di sisi Allah SWT. Kata shafa juga dapat berarti bersih, karena ahli tasawuf kemudian berusaha untuk membersihkan jiwa mereka untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kata shufanah, sebagai sebuah kayu yang bertahan tumbuh di padang pasir. Hal ini karena ajaran tasawuf dapat bertahan dalam situasi yang penuh pergolakan, ketika umat muslim terbuai oleh materialisme serta kekuasaan, sebagaimana kayu shufanah yang tahan hidup di tengah-tengah padang pasir yang tandus. Kata Teosofi, kemudian berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu ketuhanan, karena tasawuf banyak membahas tentang ketuhanan. Kata shuf dapat juga bermakna bulu domba, karena para ahli tasawuf pada masa awalnya menggunakan pakaian sederhana yang terbuat dari kulit atau bulu domba wol. Meski memiliki definisi beragam, tasawuf kemudian memiliki arti yang satu yaitu upaya untuk mendekatkan diri pada Tuhan serta menjauhi hal-hal yang bersifat duniawi. Masih dalam sumber yang sama, tasawuf sendiri dapat diartikan sebagai metode untuk mencapai kedekatan serta penyatuan antara hamba dan Tuhan serta mencapai kebenaran atau pengetahuan hakiki ma’rifat serta inti rasa agama. Pengertian Tasawuf Menurut para Ahli Sesungguhnya, ilmu tasawuf memiliki banyak arti dan dikemukakan dari beberapa ahli. Berikut ini pengertian ilmu tasawuf dari berbagai sudut pandang. 1. Syekh Abdul Qadir al-Jailani Tasawuf merupakan mensucikan hati dan melepaskan nafsu dari pangkalnya dengan khalwat, riya-dloh, taubah, dan ikhlas. 2. Al-Junaid Tasawuf memiliki makna kegiatan membersihkan hati dari yang mengganggu perasaan manusia, serta memadamkan kelemahan, menjauhi keinginan serta hawa nafsu, mendekati hal-hal yang di ridai Allah, serta bergantung pada ilmu-ilmu hakikat. Selain itu juga memberikan nasihat kepada semua orang, dengan memegang dengan erat janji dengan Allah dalam hal hakikat serta mengikuti contoh Rasulullah SAW dalam hal syariat. 3. Syaikh Ibnu Ajibah Ilmu tasawuf menurut syaikh adalah ilmu yang akan membawa seseorang agar dapat dekat bersama dengan Tuhan Yang Maha Esa melalui penyucian rohani serta mempermanisnya dengan amal-amal saleh. Jalan tasawuf yang pertama dengan ilmu, yang kedua amal serta yang terakhir adalah karunia Illahi. 4. H. M. Amin Syukur Tasawuf sebagai suatu latihan dengan kesungguhan riya-dloh, mujahadah untuk kemudian dapat membersihkan hati, mempertinggi iman serta memperdalam aspek kerohanian seseorang. Hal Ini sendiri dilakukan dalam rangka mendekatkan diri manusia kepada Allah sehingga perhatian yang ia miliki kemudian tertuju kepada Allah. Terlepas dari banyaknya pengertian tasawuf oleh para ahli, beberapa pandangan mengenai tasawuf dapat diartikan sebagai salah satu upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk menyucikan diri. Hal ini dilakukan dengan menjauhkan pengaruh kehidupan yang bersifat kesenangan duniawi serta dengan memusatkan seluruh perhatiannya kepada Allah SWT. Jadi, dengan lebih menekankan pada aspek kerohanian dibanding aspek jasmani yang ia miliki. Hal Ini karena para tokoh tasawuf lebih mempercayai keutamaan rohani jika dibandingkan dengan keutamaan jasad serta lebih percaya dunia spiritual dibandingkan dengan dunia material. Para tokoh mempercayai bahwa dunia spiritual kemudian lebih lebih nyata jika dibandingkan dengan dunia jasmani, hingga segala yang menjadi tujuan akhir atau yang disebut Allah juga dianggap bersifat spiritual. Sejarah dan Perkembangan Tasawuf Terdapat beberapa versi tentang munculnya ilmu tasawuf. Ada yang percaya bahwa tasawuf telah ada sebelum Nabi Muhammad SAW menjadi rasul. Ada pula yang meyakini bahwa tasawuf muncul setelah kerasulan Nabi. Tasawuf sendiri muncul sebelum Nabi Muhammad SAW menjadi rasul. Sebagian pendapat kemudian mengatakan bahwa paham tasawuf sebagai paham yang telah berkembang sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah. Hal ini kemudian berasal dari orang-orang daerah Irak dan Iran yang baru masuk Islam sekitar abad ke-8 M. Meski sudah masuk Islam, hidupnya tetap memelihara kesahajaan serta menjauhkan diri dari berbagai kemewahan dan kesenangan keduniaan. Tasawuf yang berasal dari zaman Nabi Muhammad SAW. Sebagian pendapat lainnya menyatakan bahwa asal usul ajaran tasawuf berasal dari zaman Nabi Muhammad SAW. Berasal dari kata “beranda” suffa, dan pelakunya disebut juga dengan ahl al-suffa, seperti telah disebutkan diatas. Mereka kemudian dianggap sebagai penanam benih paham tasawuf yang berasal dari pengetahuan Nabi Muhammad. Tasawuf muncul setelah zaman Nabi Muhammad SAW. Pendapat lainnya mengungkapkan tasawuf muncul ketika pertikaian antar umat Islam di zaman Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, khususnya disebabkan oleh faktor politik. Pertikaian yang terjadi antar umat Islam disebabkan oleh faktor politik dan perebutan kekuasaan yang terus berlangsung dimasa khalifah-khalifah sesudah Utsman dan Ali. Munculah masyarakat yang bereaksi terhadap hal tersebut kemudian menjadikannya menganggap bahwa politik dan kekuasaan merupakan wilayah yang kotor. Mereka melakukan berbagai gerakan uzlah, yaitu menarik diri dari hingar-bingar masalah duniawi. Lalu munculah gerakan tasawuf yang saat itu dipelopori oleh Hasan Al-Bashri pada abad kedua Hijriyah. Prinsip-Prinsip Tasawuf Tasawuf bertujuan membantu seseorang untuk tetap berada di jalan Allah SWT. Dengan tasawuf seseorang kemudian menjadi tidak berlebihan dalam hal duniawi serta tetap fokus pada iman dan takwa yang ia miliki. Terdapat beberapa prinsip yang dapat dilakukan dalam ber-tasawuf. Menurut ahli sufi, Profesor Angha dalam The Hidden Angels of Life, prinsip tasawuf yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut. 1. Zikir Zikir sebagai suatu proses pemurnian hati, pembersihan serta pelepasan. Orang-orang yang melakukan zikir kemudian bertujuan mendekatkan diri pada Tuhan melalui doa serta melantunkan lafaz zikir. 2. Fikr Meditasi Saat pikiran merasa bingung atau bertanya-tanya, pusatkanlah perhatianmu yang kamu miliki ke dalam diri dengan berkonsentrasi pada satu titik. Meditasi sebagai suatu perjalanan kegiatan mental dari dunia eksternal menuju suatu esensi diri. 3. Sahr Bangkit Dengan Membangkitkan jiwa dan tubuh sebagai proses mengembangkan kesadaran mata dan telinga. Selain itu juga sebagai suatu proses mendengarkan hati, serta proses meraih akses menuju potensi diri yang tersembunyi. 4. Ju’i Merasa Lapar Merasakan lapar pada hati dan pikiran untuk kemudian bertahan mencari serta mendapatkan suatu kebenaran. Proses ini kemudian melibatkan hasrat dan keinginan yang mendalam untuk tetap tabah serta sabar dalam mencari jati diri. 5. Shumt Menikmati Keheningan Berhenti berpikir serta mengatakan berbagai hal yang tidak perlu. Kedua hal ini merupakan proses menenangkan lidah serta otak serta mengalihkan dari godaan eksternal menuju Tuhan. 6. Shawm Puasa Tidak hanya pada tubuh yang berpuasa melainkan pikiran juga. Proses ini kemudian termasuk puasa fisik, bermanfaat untuk dapat melepaskan diri dari hasrat dan keinginan otak serta pandangan atau persepsi indera eksternal. 7. Khalwat Bersunyi Sendiri Berdoa dalam kondisi sunyi atau kesunyian, baik secara eksternal maupun internal akan membantu melepaskan diri. Bersunyi sendiri tetap akan mendekatkanmu dengan orang lain atau di tengah orang banyak. 8. Khidmat Melayani Menyatu dengan kebenaran Tuhan. Seseorang yang menemukan jalan jiwa untuk pelayanan dan pertumbuhan diri. Dasar Ilmu Tasawuf Sama seperti ajaran dalam agama Islam lainnya, ilmu tasawuf kemudian dilarang menyimpang dari Alquran. Berikut di bawah ini adalah dasar-dasar ilmu tasawuf, yakni Surat Al-Baqarah Ayat 115 berbunyi “Dan kepunyaan Allah-lah dari timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap maka di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Luas rahmat-Nya dan Maha Mengetahui.” Surat Al-Baqarah Ayat 186 berbunyi “Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku sangat dekat. Aku mengabulkan permohonan setiap orang yang berdoa jika ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka kemudian memenuhi segala perintahKu serta hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka kemudian selalu berada dalam kebenaran.” Surat Qaf Ayat 16 berbunyi “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia serta mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami menjadi lebih dekat kepadanya dibandingkan urat lehernya.” Surat Al-Kahfi Ayat 65 berbunyi “Lalu mereka akan bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, serta yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” Aliran Ilmu Tasawuf dan Bentuk Ajarannya Terdapat macam-macam ilmu tasawuf, di antaranya adalah 1. Tasawuf Akhlaki Sunni Tasawuf akhlaki merupakan suatu tasawuf yang berkonsentrasi kepada teori-teori perilaku akhlak serta teori budi pekerti. Dengan berbagai metode tertentu yang telah dirumuskan sebelumnya tasawuf seperti ini kemudian berupaya untuk menghindari akhlak mazmumah atau perilaku buruk dan mewujudkan akhlak mahmudah atau perilaku baik. Dalam pandangan para sufi yang berpendapat bahwa untuk merehabilitasi sikap mental yang tak baik diperlukan terapi yang tidak hanya dari aspek lahiriyah saja, karenanya dalam tasawuf akhlaki memiliki sistem pembinaan akhlak yang disusun sebagai berikut Takhalli sebagai suatu langkah pertama yang yang harus dilakukan oleh seorang sufi. Takhalli merupakan suatu usaha mengosongkan diri dari suatu perilaku tercela. Tahalli merupakan suatu upaya untuk mengisi dan menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sikap, perilaku, serta akhlak terpuji. Tahapan tahalli kemudian dilakukan kaum sufi setelah mengosongkan jiwa dari akhlak-akhlak tercela. Tajalli merupakan suatu pemantapan dan pendalaman materi yang telah dilalui fase tahalli, maka rangkaian pendidikan akhlak selanjutnya ialah fase tajalli. Kata tajalli sendiri bermakna terbukanya hijab sehingga tampak jelas nur ilahi. Hal ini sejalan juga dengan firman Allah SWT yang artinya, “Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan,” QS. Al-A’raf 143. 2. Tasawuf Falsafi Tasawuf falsafi merupakan suatu tasawuf yang didasarkan kepada gabungan teori-teori tasawuf serta berbagai filsafat atau yang bermakna metafisis atau mistik. Tasawuf ini juga kemudian dikembangkan oleh ahli-ahli sufi sekaligus filsuf. 3. Tasawuf Syi’i Tasawuf syi’i kemudian beranggapan bahwa manusia dapat meninggal dengan Tuhannya karena ia memiliki kesamaan esensi dengan Tuhannya. Menurut Ibnu Khaldun yang dikutip oleh Taftazani kemudian melihat kedekatan serta kesamaan antara tasawuf falsafi dan tasawuf syi’i terkait pandangan hulul atau ketuhanan iman-iman mereka. Buku-Buku Terkait Tasawuf 1. Tasawuf Modern Bahagia Itu Dekat dengan Kita Buku ini tidak menguraikan tentang tasawuf secara gamblang, meski judulnya Tasawuf Modern. Buku ini tetap relevan, meski ditulis puluhan tahun yang lalu. Temanya tentang bahagia, topik yang tidak pernah selesai diperbincangkan, dan selalu ingin diwujudkan oleh siapa pun, di mana pun, dan dengan cara apapun. Ditulis oleh cendekiawan muslim berwawasan luas, dengan latar belakang sastrawan, menjadikan buku ini bukan saja kaya makna, tapi juga enak dibaca. Mari kita lihat salah satu uraiannya, “…Berbahagialah yang timbul ketika memberi keputusan. Ada yang mengatakan baik, sebab sayang, ada yang mengatakan buruk, sebab benci. berbagai ragam keputusan menurut pengalaman. Ilmu, penyelidikan, bahagia, dan celaka itu hanya berpusat kepada sanubari orang, bukan pada zat barang yang dilihat. Bagi kebanyakan orang, masuk bui menjadi kecelakaan dan kehinaan, bagi setengahnya pula, menjadi kemuliaan dan kebahagiaan”. 2. Syekh Abd Al-Ra’F Al-Fansr Rekonsiliasi Tasawuf dan Syariat Meskipun tasawuf adalah salah satu disiplin keilmuan Islam yang sah, sejarah mencatat tidak jarang terjadi ketegangan antara ulama syariat ahli fikih dan teolog dan ulama sufi. Perselisihan tersebut kadang kadang membawa kepada konflik, persekusi dan bahkan hukuman mati. Polemik wujudiah di Aceh pada abad ke-17 adalah di antara contoh ketegangan antara ulama syariat dan ulama sufi di Nusantara. Hubungan yang tidak harmonis antara dua kelompok ulama ini telah mendorong tokoh-tokoh ulama sufi, sejak abad ke-3 H, untuk mencari jalan tengah demi mendamaikan antara ulama syariat dan ulama sufi. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya konflik antara dua kelompok ulama tersebut dan mencegah terjadinya penyimpangan oleh para penempuh jalan sufi. 3. Pembangunan Karakter Islam Perspektif Tasawuf Tasawuf merupakan batin esoteris dari ajaran Islam, sementara sisi lahirnya esoteric adalah syariah yang mengandung hukum-hukum keagamaan formal, mengenai apa yang harus dilakukan oleh seseorang al-wajibat serta apa yang seharusnya ditinggalkan al-muharramat. Tasawuf, selain mengisi sisi batiniah dari syariah, juga memberikan makna bagaimana hidup ber-Tuhan dengan baik dan benar. Dalam konteks ini, tasawuf telah memberikan penegasan bahwa hidup tanpa memiliki hubungan yang harmonis dengan Tuhan, adalah hidup yang, kosong dan hampa. Manusia yang telah mencampakkan sisi batin rohaniah pada dirinya, serta tidak memiliki hubungan yang harmonis dan selaras dengan Tuhan, merupakan manusia yang hidup tanpa aturan-aturan dan norma-norma kebaikan. Bertasawuf dalam al-akhlaq al-mahmudah berarti menegakkan moral yang baik dalam bentuk ucapan, perbuatan dan aktivitas keseharian. Moral ini harus diajarkan, difahamkan, didudukkan, serta dibiasakan, sehingga ia menyatu dalam diri dan kemudian menjadi karakter. 4. Tasawuf Perkembangan & Pemurnian Perkembangan dan pertumbuhan Tasawuf Islam banyak diwarnai kesalahpahaman, bahkan hingga saat ini. Misalnya, ada yang menyebutkan pertumbuhan Tasawuf Islam terpengaruh oleh ajaran Kristen hingga filsafat. Pun demikian dengan beberapa ajarannya, seperti Hulu, Kasyaf, Tajali, al-wahdat ul Muthlaqah, atau Wahdatul Wujud. Kesalahpahaman bahkan sampai pada titik pertentangan yang sengit, terutama dengan kalangan Fiqih. Sampai-sampai seorang tokoh Tasawuf harus berakhir di tiang gantung. Melalui buku ini, Buya Hamka dengan keluasan dan pemahamannya yang utuh, memberi kita cara pandang untuk melihat Tasawuf Islam seperti apa adanya. Demikian kita memahami bahwa tasawuf adalah sebuah ajaran atau ilmu dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Grameds bisa membaca dan mendapatkan buku-buku terkait tasawuf di Sebagai SahabatTanpaBatas Gramedia selalu memberikan produk terbaik agar kamu memiliki informasi LebihDenganMembaca. Rekomendasi Buku & Artikel Terkait Penulis Sofyan BACA JUGA Rekomendasi Buku Hijrah Muslimah Terbaru Juli 2022 Buku Islami Best Seller Terbaru Juli 2022 di Gramedia Rekomendasi Buku Islami untuk Panduan Hijrah Menuju Lebih Baik Buku Sejarah Agama Islam & Peradaban Islam Rekomendasi Ensiklopedia Islam Terbaru Juli 2022 ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah." Custom log Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda Tersedia dalam platform Android dan IOS Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis Laporan statistik lengkap Aplikasi aman, praktis, dan efisien Tasawuf adalah bagian dari perkembangan ajaran islam dari para sufi. Dalam rukun islam dan rukun iman mengenai tasawuf memang tidak terdapat secara eksplisit. Ajaran tasawuf sendiri dianggap berasal dari berbagai pengaruh ajaran agama atau filsafat lain yang akhirnya diadopsi dan disesuaikan dengan konsep islam. Untuk itu terdapat pro kontra mengenai hal tersebut. Tentu saja hal ini tidak boleh bertentangan dengan Fungsi Iman Kepada Kitab Allah, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, dan Fungsi Al-quran Bagi Umat adalah pengertian tasawuf dalam berbagai sudut EtimologiPengertian tasawuf menurut etimologi juga pendekatan lainnya, terdapat perbedaan. Secara umum, diantara perbedaan tersebut tentu ada garis merah atau benang merah yang dapat dari Kata Shuffah Tasawuf berasal dari istilah shuffah. Shuffah berarti serambi tempat duduk. Suffah berasal di serambi masjid Madinah yang disediakan untuk mereka yang belum memiliki tempat tinggal atau rumah dan dari orang-orang muhajirin yang ada di Masa Rasulullah SAW. Mereka dipanggi sebagai Ahli Suffah atau Pemilik Sufah karena di serambi masjid Madinah itulah tempat dari Kata ShafSelain itu, istilah tawasuf juga berasal dari kata Shaf. Shaf memiliki arti barisan. Istilah ini dilekatkan kepada tasawuf karena mereka, para kaum sufi, memiliki iman yang kuat, jiwa dan hati yang suci, ikhlas, bersih, dan mereka senantiasa berada dalam barisan yang terdepan jika melakukan shalat berjamaah atau dalam melakukan dari Kata Shafa dan Shuafanah Istilah Tasawuf juga ada yang mengatakan berasal dari kata shafa yang artinya bersih atau jernih dan kata shufanah yang memiliki arti jenis kayu yang dapat bertahan tumbuh di daerah padang pasir yang dari Kata ShufPengertian Tasawuf juga berasal dari kata Shuf yang berarti bulu domba. Pengertian ini muncul dikarenakan kaum sufi sering menggunakan pakaian yang berasal dari bulu domba kasar. Hal ini melambangkan bahwa mereka menjunjung kerendahan hati serta menghindari sikap menyombongkan diri. Selain itu juga sebagai simbol usaha untuk meninggalkan urusan-urusan yang bersifat duniawi. Orang-orang yang menggunakan pakaian domba tersebut dipanggil dengan istilah Mutashawwif dan perilakunya disebut TerminologiPengertian tasawuf menurut terminologi dari para ahli sufi juga terdapat varian-varian yang berbeda. Hal ini dapat dijelaskan dari berbagai pandangan sufi berikutMenurut Imam JunaidMenurut seorang sufi yang berasal dari Baghdad dan bernama Imam Junaid, Tasawuf memiliki definisi sebagai mengambil sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat Syekh Abul Hasan Asy-SyadziliSyekh Abul Hasan Asy-Syadzili adalah seorang syekh yang berasal dari Afrika Utara. Sebagai seorang sufi ia mendefinisikan tasawuf sebagai proses praktek dan latihan diri melalui cinta yang mendalam untuk ibadah dan mengembailikan diri ke jalan Al-TusturySahal Al Tustury mendefinisikan tasawuf sebaai terputusnya hubungan dengan manusia dan memandang emas dan kerikil. Hal ini tentu ditunjukkan untuk terus menerus berhubungan dan membangun kecintaan mendalam pada Allah Ahmad ZorruqMenurut Syeikh Ahmaz Zorruq yang berasal dari Maroko, Tasawuf adalah ilmu yang dapat memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata untuk Allah dengan menggunakan pengetahuan yang ada tentang jalan islam. Pengetahuan ini dikhususkan pada pengetahuan fiqh dan yang memiliki kaitan untuk mempebaiki amalan dan menjaganya sesuai dengan batasan syariah islam. Hal ini ditujukan agar kebikjasanaan menjadi hal yang UmumDari pengertian tasawuf secara etimologi dan terminologi dapat diambil kesimpulan bahwa Tasawuf adalah pelatihan dengan kesungguhan untuk dapat membersihkan, memperdalam, mensucikan jiwa atau rohani manusia. Hal ini dilakukan untuk melakukan pendekatan atau taqarub kepada Allah dan dengannya segala hidup dan fokus yang dilakukan hanya untuk Allah itu, tasawuf tentu berkaitan dengan pembinaan akhlak, pembangunan rohani, sikap sederhana dalam hidup, dan menjauhi hal-hal dunia yang dapat melenakan. Tentu hal ini bisa membantu manusia dalam mencapai tujuannya dalam hidup. Untuk itu, praktik tasawuf ini dapat dilakukan oleh siapapun yang ingin membangun akhlak yang baik, sikap terpuji, kesucian jiwa, dan kembalinya pada Illahi dalam kondisi yang umum, tentu ajaran tasawuf jika dikembangkan tidak boleh bertentangan dan juga bersebrangan dengan ajaran yang berasal dari Wahyu Al Quran dan Sunnah Rasulullah. Sebagai bentuk kecintaan manusia kepada Rasulullah tentunya juga harus tetap melaksanakan ibadah sebagaimana Rasul Tasawuf dalam Al-QuranMengenai tasawuf, beberapa sufi menyandarkan pengertian dan dasar-dasarnya kepada ayat-ayat Al-Quran. Ajaran tasawuf diidentikkan dengan ajaran islam walaupun agama lain juga memiliki hal yang serupa dengan tasawuf. Berikut adalah ayat-auat Al-Quran yang berkenaan dengan dasar tasawuf menurut para sufiQS Al Baqarah 115“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas rahmat-Nya lagi Maha Mengetahui.”QS Al Baqarah 186 “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”QS Qof 16 “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” QS Al Kahfi 65 “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”Dalam pelaksanaan praktik tasawuf, tentunya manusia jangan sampai lupa dan meninggalkan juga bagaimana aktivitas kehidupan berdasarkan Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama praktik tasawuf bukan berarti sama dengan meninggalkan juga usaha untuk dapat Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam. Dunia Menurut Islam memang bukanlah segala-galanya, dan tidak boleh terlena dengannya. Namun Allah pun juga menyuruh manusia untuk dapat mengoptimalkan kehidupan dunia agar dapat meraih Sukses Menurut Islam.

ayat alquran tentang tasawuf